BPTJ Tata 17 Titik Kemacetan Stasiun Kereta

0
93

Minggu, 3 Desember 2017

Jakarta (infobisnis.co.id) – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menata 17 titik kemacetan di stasiun-stasiun terpadat di Jabodetabek.

“Stasiun-stasiun ini seringkali dimanfaatkan oleh ojek, bajaj bahkan bus Transjakarta untuk `mengetem` dan itu berbaris panjang,” kata Kepala BPTJ Bambang Prihartono dalam diskusi di Jakarta, Minggu.

Dia menyebutkan 17 titik stasiun itu di antaranya, Stasiun Jatinegara, Stasiun Sudirman, Stasiun Juanda, Stasiun Tanah bang, Stasiun Depok Baru, Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Cawang, Stasiun Manggarai, Stasiun Kebayoran, Stasiun Cikini.

Kemudian Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Duren Kalibata, Stasiun Palmerah, Stasiun Grogol, Stasiun Tebet, Stasiun Klender, Stasiun Karet.

“Stasiun pertama yang ditata oleh kami adalah Stasiun Sudirman. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun terpadat dengan jumlah commuter mencapai 60 ribu orang per hari,” katanya.

Sebelumnya, menurut dia terjadi kemacetan yang diakibatkan oleh banyak ojek daring yang menunggu pengguna KRL di ruas jalan sekitar stasiun sudirman.

Bambang menjelaskan penanganan kemacetan dilakukan dengan memindahkan lokasi menunggu ojek daring di ruas jalan ke bangunan bekas Pasar Blora.

Stasiun kedua yang sekarang sedang ditangani yaitu Stasiun Manggarai dan sudah dikoordinasikan dengan pihak DAOP I, PT KAI, Dishub DKI dan pihak terkait lainnya.

“Saya yakin dengan cara ini, pasti kemacetan akan terurai dan kecepatan akan bertambah,” katanya.

Selain itu, lanjut Bambang, upaya lain untuk mengurai kemacetan Jabodetabek, yaitu integrasi sistem pembayaran e-ticket atau connexion card.

Connexion card adalah kartu yang di dalamnya terdapat chip dan dapat digunakan menjadi tiket elektronik antar moda transportasi di wilayah Jabodetabek.

Kemudian, pengaturan sepeda motor dengan memperpanjangan lokasi pengaturan dari Bundaran Hotel Indonesia sampai Bundaran Senayan.

“Pembatasan penggunaan sepeda motor di lokasi eksisting memberi penghematan biaya transportasi sebesar Rp296 juta per hari dari Rp103 miliar per tahun,” katanya.

Kriteria penghematan yaitu waktu tempuh, biaya, operasi Kendaraan dan tingkat kecelakaan

Selanjutnya, penyiapan Lajur Khusus Angkutan Umum (LKAU).

Saat ini dua trayek dilayani dengan Transjabodetabek premium menggunakan Lajur Khusus Angkutan Umum (LKAU) , yaitu trayek Mega City (Bekasi Barat), Plaza Senayan (Jakarta), Botani Square (Bogor), Plaza Senayan (Jakarta) dan Grand Dhika (Bekasi Timur)-Jakarta yang direncanakan mulai ujicoba pada 12 Desember 2017.

Bambang menambahkan pihaknya juga akan melakukan integrasi pengaturan lalu-lintas

melalui pemasangan Detektor Kendaraan, mmenyiapkan Pusat Pengendali Lalu Lintas dan “Variable Message Signs”.

Bambang menyebutkan dalam jangka pendek penerapan program ini dapat meningkatkan kinerja lalu-lintas, meningkatkan penggunaan angkutan umum, efisiensi Biaya Transportasi

Target implementasi program ini Akhir 2018.

Kemudian, pengembangan MRT fase lanjutan, yaitu Barat-Timur MRT karena permintaan yang cukup tinggi.

Selain itu, pembangunan hunian berbasis transportasi “transit oriented development” (TOD) Dukuh Atas.

“Agar perpindahan ke transportasi publik dapat berhasil, fasilitas pejalan kaki harus cukup lebar, aman dan nyaman, khususnya pada titik-titik integrasi moda transportasi. Selain itu perlu dibuat pedestrian plaza, untuk mengakomodir volume lalu lintas pejalan kaki yg sangat besar,” katanya.

Kemudian, perpanjangan Koridor 13 atau jalur layang elevated Bus Transjakarta Koridor 13 diusulkan diperpanjang sampai Tangerang, penerapan jalan berbayar” Electronic Road Pricing” atau (ERP) yang perluas pada jalan atau akses masuk ke DKI Jakarta, pembangunan jalur lingkar layang (loop line) yang bertujuan untuk mengurangi jumlah pelintasan sebidang.

“Dalam jangka menengah, hal ini dapat memberikan Aksesibilitas Bagi Pengguna Angkutan Umum, menjadi Sumber Pendapatan Baru dari Lalu-lintas (ERP), dan meningkatkan Integrasi, Pengembangan dan Penataan Wiayah (TOD),” katanya.

Bambang menargetkan implementasi akhir 2019 dan program-program tersebur diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi kemacetan Jabodetabek dan akhirnya akan mengurangi kerugian akibat kemacetan yang mencapai Rp100 triliun selama setahun di wilayah Jabodetabek. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here